Pengembangan Berpikir Kritis PKn melalui Deep Learning
Ulasan Ilmiah
Penelitian ini mengulas secara mendalam persepsi sepuluh mahasiswa PGSD terhadap implementasi model deep learning dalam pembelajaran PKn di SD untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa, dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah, yang kemudian dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi faktor-faktor penentu persepsi dan deskripsi efektivitas model tersebut dalam konteks nyata kelas PKnÂ
Penelitian ini penting karena memberikan gambaran komprehensif tentang bagaimana calon guru SD sebagai aktor kunci implementasi inovasi memandang deep learning: di satu sisi sebagai peluang besar untuk mengubah PKn dari hafalan menjadi pembelajaran yang analitis, kontekstual, dan berbasis proyek; di sisi lain sebagai pendekatan yang menuntut kesiapan guru, kurikulum, fasilitas, dan kesiapan kognitif siswa, sehingga membuka area intervensi konkret bagi pengembang kurikulum, lembaga pendidikan guru, dan pembuat kebijakan
Temuan utama menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa dibentuk oleh tiga kelompok faktor: (1) faktor internal, seperti pengalaman dan pemahaman awal tentang deep learning yang cenderung minim sehingga menimbulkan keraguan atau justru keterbukaan, serta mindset adaptif yang memandang deep learning sebagai peluang pengembangan diri; (2) faktor eksternal, berupa kurikulum PGSD yang dinilai belum memadai, keterbatasan sumber daya berbahasa Indonesia, tetapi juga kuatnya efek dukungan dosen dan bukti keberhasilan lapangan; dan (3) faktor interaktif, yaitu keterampilan guru sebagai fasilitator dan karakteristik kognitif siswa yang menentukan kelayakan dan kedalaman penerapan model di kelas
Dari sisi efektivitas, mahasiswa menilai deep learning mampu mentransformasi pembelajaran PKn: menggeser dari hafalan ke pemahaman mendalam dan kontekstual, menumbuhkan rasa ingin tahu dan keaktifan bertanya, melatih pemecahan masalah melalui studi kasus, menghubungkan antarkonsep seperti Pancasila, hak-kewajiban, dan fenomena sosial, serta melatih pengambilan keputusan etis berbasis berbagai sudut pandang; namun semua itu sangat bersyarat pada relevansi kasus, kesiapan kognitif siswa, serta kompetensi guru dalam merancang skenario dan memfasilitasi diskusiÂ
Implikasinya bagi pembelajaran SD adalah perlunya desain pembelajaran PKn yang: berbasis masalah dan studi kasus kontekstual, memanfaatkan teknologi secara interaktif, memberi ruang diskusi, kolaborasi, dan refleksi, serta terdiferensiasi sesuai tingkat kognitif siswa; di saat yang sama, lembaga pendidikan guru dan sekolah dasar perlu memperkuat pelatihan guru tentang deep learning, memperbarui kurikulum agar mendukung model ini, dan menyediakan sumber daya teknologi yang memadai sehingga potensi pengembangan berpikir kritis benar-benar tercapai di ruang kelasÂ
Sebagai catatan akhir, artikel ini kuat dalam mengelaborasi faktor pembentuk persepsi dan memberikan sintesis konseptual yang kaya, tetapi tetap memiliki keterbatasan pada jumlah responden yang kecil dan fokus konteks lokal PGSD sehingga hasilnya sebaiknya dibaca sebagai pemetaan mendalam awal, bukan generalisasi luas; meski demikian, bagi peneliti dan praktisi pendidikan dasar, tulisan ini merupakan rujukan penting untuk merancang intervensi pelatihan guru dan inovasi pembelajaran PKn berbasis deep learning yang lebih realistis dan kontekstual
Deskripsi Artikel Asli
Informasi Sumber Eksternal
Identitas Pengulas (Kontributor)
Informasi Tambahan
Review
Write a ReviewThere are no reviews yet.




