Pelatihan Pembuatan Poster Edukasi Anti-Perundungan Menggunakan Canva bagi Siswa SDN Keliling Benteng Ilir
Ulasan Ilmiah
Menurut saya sebagai mahasiswa, isu perundungan (bullying) di lingkungan sekolah dasar masih menjadi persoalan yang cukup serius dan perlu ditangani dengan pendekatan yang kreatif serta relevan dengan perkembangan zaman. Salah satu pendekatan yang menurut saya menarik adalah pembelajaran berbasis proyek, terutama jika dikaitkan dengan pengembangan kampanye digital anti-bullying. Berdasarkan artikel karya Saleh dkk. (2025) tentang pelatihan pembuatan poster edukasi anti-perundungan menggunakan Canva, saya melihat adanya peluang besar untuk mengembangkan pembelajaran yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dan kontekstual bagi siswa.
Menurut saya, pembelajaran berbasis proyek memberikan ruang bagi siswa untuk belajar secara aktif melalui pengalaman langsung. Dalam konteks ini, siswa tidak hanya diberi pemahaman tentang apa itu bullying dan dampaknya, tetapi juga diajak untuk menjadi agen perubahan melalui pembuatan kampanye digital. Misalnya, seperti yang dijelaskan dalam artikel tersebut, siswa dilatih membuat poster edukasi menggunakan Canva. Kegiatan ini menurut saya sangat relevan, karena selain meningkatkan kesadaran tentang bahaya bullying, siswa juga memperoleh keterampilan digital yang penting di era sekarang.
Sebagai mahasiswa, saya melihat bahwa penggunaan media digital seperti Canva dapat meningkatkan minat belajar siswa. Anak-anak zaman sekarang cenderung lebih tertarik pada hal-hal visual dan interaktif. Oleh karena itu, ketika mereka dilibatkan dalam proyek pembuatan poster atau kampanye digital, mereka akan merasa lebih antusias dan termotivasi. Menurut saya, hal ini juga dapat menumbuhkan kreativitas serta kemampuan berpikir kritis siswa, karena mereka harus memikirkan pesan apa yang ingin disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya secara menarik.
Selain itu, menurut saya pembelajaran berbasis proyek juga dapat menanamkan nilai-nilai sosial pada siswa, seperti empati, kerja sama, dan tanggung jawab. Dalam proses pembuatan kampanye anti-bullying, siswa biasanya bekerja dalam kelompok, berdiskusi, dan saling bertukar ide. Hal ini secara tidak langsung melatih mereka untuk menghargai pendapat orang lain dan memahami pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman di sekolah.
Namun, menurut saya sebagai mahasiswa, penerapan pembelajaran berbasis proyek ini juga memerlukan dukungan dari guru yang kompeten. Guru harus mampu membimbing siswa, memberikan arahan yang jelas, serta memastikan bahwa tujuan pembelajaran tetap tercapai. Selain itu, fasilitas seperti akses internet dan perangkat digital juga menjadi faktor pendukung yang penting.
Secara keseluruhan, menurut saya pembelajaran berbasis proyek untuk pengembangan kampanye digital anti-bullying merupakan inovasi yang sangat positif. Pendekatan ini tidak hanya membantu siswa memahami konsep anti-bullying, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan abad ke-21. Dengan demikian, saya berpendapat bahwa metode ini layak untuk diterapkan secara lebih luas di sekolah dasar sebagai upaya preventif dalam mengatasi perundungan sejak dini.
Deskripsi Artikel Asli
Informasi Sumber Eksternal
Identitas Pengulas (Kontributor)
Informasi Tambahan
Review
Write a ReviewThere are no reviews yet.




