Blended Learning, Internet Self-Efficacy, dan Kewarganegaraan Digital

Report Abuse

Ulasan Ilmiah

Siswa sekolah dasar saat ini tumbuh dalam dunia yang sepenuhnya digital (digital natives). Mereka menonton video daring, bermain game online, berkomunikasi melalui WhasApp, bahkan mencari informasi untuk tugas sekolah melalui internet. Namun, di tengah kemudahan akses tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah mereka juga dibekali dengan sikap yang bertanggung jawab sebagai warga digital? Kemampuan menggunakan teknologi secara teknis tidak otomatis berarti mampu menggunakannya secara etis. Di sinilah konsep sikap kewarganegaraan digital (digital citizenship attitudes) menjadi penting. Kewarganegaraan digital tidak hanya tentang kemampuan mengoperasikan perangkat, tetapi juga mencakup tanggung jawab, etika komunikasi, kesadaran keamanan siber, serta kemampuan menghormati dan melindungi diri maupun orang lain di ruang digital. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science and Education tahun 2025 berusaha menjawab bagaimana sekolah dasar dapat membentuk sikap kewarganegaraan digital secara lebih efektif. Studi berjudul “The Influence of Blended Learning Models and Internet Self-Efficacy on Digital Citizenship Attitudes of Elementary School Students in Indonesia” ini dilakukan oleh Mujtahidin dan tim peneliti dari Indonesia dan Slovenia. Penelitian tersebut melibatkan 288 siswa kelas IV di Kabupaten Bangkalan dan tersedia secara terbuka (open access). Mengapa Penelitian Ini Penting? Selama ini, banyak penelitian tentang model blended learning dan sikap kewarganegaraan digital dilakukan pada mahasiswa atau siswa sekolah menengah. Padahal, pembentukan karakter digital seharusnya dimulai sejak usia dini. Anak-anak sekolah dasar sudah menjadi “digital natives” yang akrab dengan teknologi, tetapi belum tentu memiliki pemahaman yang matang tentang etika dan tanggung jawab digital. Dalam konteks Indonesia, urgensinya semakin kuat karena pendidikan kewarganegaraan (PPKn) berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Nilai persatuan, tanggung jawab sosial, dan keadilan tidak hanya berlaku di dunia nyata, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku di dunia maya. Penelitian ini juga menarik karena tidak hanya meneliti model pembelajaran, tetapi juga memperhatikan faktor psikologis siswa, yaitu internet self-efficacy atau kepercayaan diri dalam menggunakan internet. Apa Itu Internet Self-Efficacy? Internet self-efficacy adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya menggunakan internet secara efektif. Siswa yang memiliki tingkat internet self-efficacy (ISE) tinggi cenderung lebih percaya diri mencari informasi, lebih berani mengeksplorasi sumber belajar daring, dan lebih mampu mengatasi kendala teknis. Sebaliknya, siswa dengan ISE rendah dapat merasa cemas atau ragu saat menggunakan teknologi. Mereka mungkin kurang aktif dalam pembelajaran digital atau kurang kritis dalam menyaring informasi. Penelitian ini ingin melihat apakah tingkat kepercayaan diri tersebut berpengaruh terhadap sikap kewarganegaraan digital siswa. Membandingkan Dua Model Pembelajaran Penelitian ini membandingkan dua pendekatan pembelajaran. Pertama, Model blended learning, yaitu kombinasi pembelajaran tatap muka dan online, dan offline. Dalam model ini, siswa tidak hanya menerima penjelasan guru di kelas, tetapi juga melakukan aktivitas belajar melalui platform digital. Kedua, model direct instruction (model pembelajaran langsung), yaitu pembelajaran langsung yang lebih terstruktur dan berpusat pada guru tanpa integrasi teknologi secara intensif. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan analisis statistik MANOVA, sehingga mampu menguji pengaruh masing-masing faktor sekaligus interaksi di antara keduanya. Apa Temuan Penelitian? Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang belajar melalui blended learning memiliki sikap kewarganegaraan digital yang lebih baik dibandingkan siswa yang mengikuti pembelajaran langsung biasa (F = 8,856; p < 0,05). Namun, temuan yang lebih menarik adalah bahwa pengaruh internet self-efficacy bahkan lebih kuat. Siswa dengan tingkat kepercayaan diri tinggi dalam menggunakan internet menunjukkan sikap kewarganegaraan digital yang lebih positif (F = 21,983; p < 0,05). Penelitian ini juga menemukan adanya efek interaksi antara model pembelajaran dan self-efficacy (F = 6,938; p < 0,05). Artinya, blended learning paling efektif diterapkan pada siswa yang memiliki kepercayaan diri tinggi dalam menggunakan teknologi. Sementara itu, siswa dengan internet self-efficacy rendah memerlukan pendampingan dan dukungan tambahan agar dapat merasakan manfaat yang sama. Bagaimana Implikasinya bagi Pembelajaran di Sekolah Dasar Temuan ini memberikan pesan penting bagi dunia pendidikan bahwa teknologi saja tidak cukup. Memberikan akses perangkat dan internet bukan jaminan terbentuknya karakter digital yang baik. Keberhasilan pembelajaran digital sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu desain pembelajaran dan kesiapan psikologis siswa. Blended learning efektif karena memberi ruang eksplorasi, kolaborasi, dan pengalaman langsung dalam menggunakan teknologi. Namun, jika siswa tidak percaya diri menggunakan internet, potensi model tersebut tidak akan optimal. Dengan demikian, pembentukan sikap kewarganegaraan digital merupakan hasil interaksi antara pendekatan pedagogis (ISE) dan faktor internal siswa (model pembelajaran) Bagi guru sekolah dasar, penelitian ini menegaskan pentingnya memahami tingkat kepercayaan diri siswa dalam menggunakan internet sebelum menerapkan pembelajaran berbasis teknologi. Pendekatan yang terdiferensiasi diperlukan agar semua siswa dapat berkembang secara optimal. Bagi pembuat kebijakan pendidikan dan sekolah, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kurikulum digital sebaiknya tidak hanya fokus pada literasi teknis, tetapi juga pada penguatan self-efficacy dan pembentukan nilai etis dalam penggunaan teknologi. Catatan Akhir Pengulas Membangun generasi digital yang bertanggung jawab tidak cukup hanya dengan menyediakan teknologi di ruang kelas. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi itu dirancang dalam pembelajaran, serta bagaimana siswa merasa percaya diri dalam menggunakannya. Penelitian ini menunjukkan bahwa ketika blended learning dipadukan dengan tingkat internet self-efficacy yang baik, siswa sekolah dasar lebih siap menjadi warga digital yang etis, aman, dan bertanggung jawab. Di tengah transformasi pendidikan digital yang terus berkembang, integrasi antara pedagogi yang tepat dan penguatan kepercayaan diri teknologi menjadi kunci masa depan pendidikan kewarganegaraan digital.

Deskripsi Artikel Asli

Judul Asli Karya Ilmiah
The Influence of Blended Learning Models and Internet Self-Efficacy on Digital Citizenship Attitudes of Elementary School Students in Indonesia
Nama Penulis Karya Ilmiah
Mujtahidin; Wahjoedi; Suko Wiyono; Rosyid Al Atok; Milena Mileva Blažić
Tanggal Publikasi
June 30, 2025
Jenis Penlitian
Kuantitatif
Jenis Lisensi
CC BY-NC 4.0
Link DOI Sumber (Aktif)

Informasi Sumber Eksternal

Nama Institusi/Penerbit
Psychological Science and Education
Kategori/Quadran
Jurnal Q3
Informasi Sosial Media (jika ada)

Identitas Pengulas (Kontributor)

Nama Lengkap
Dr. Mujtahidin, S.Pd., M.Pd.
ID (NIM)
60124408900

Informasi Tambahan

Panduan Kutipan
Mujtahidin, M., Wahjoedi, W., Wiyono, S., Atok, R. A., & Blažić, M. M. (2025). The influence of blended learning models and internet self-efficacy on digital citizenship attitudes of elementary school students in Indonesia. Psychological Science and Education, 30(3), 47–58. https://doi.org/10.17759/pse.2025300304

Author Info

Admin DC

Member since 3 minggu ago
View Profile

There are no reviews yet.

Leave a Review

Your email address will not be published. Required fields are marked *