Menanam Karakter di Ruang Kelas: Bagaimana Siswa SD Memaknai Pancasila dalam Keseharian
Ulasan Ilmiah
Pancasila seringkali dianggap sebagai materi hafalan yang berat bagi anak-anak, padahal intinya adalah tentang bagaimana kita bersikap sebagai manusia di tengah masyarakat. Di level sekolah dasar, tantangan terbesarnya bukan cuma membuat siswa hafal butir-butirnya, tapi bagaimana nilai-nilai itu benar-benar tertanam di kepala dan muncul dalam perilaku mereka. Artikel berjudul “Refleksi Nilai Pancasila dalam Sikap dan Perilaku Siswa di Lingkungan Sekolah Dasar Inpres Ngedubhaga” karya Dimas Qondias dan tim (2025) yang terbit di Jurnal Pendidikan Dasar Perkhasa, mencoba membedah fenomena ini dengan sangat jujur. Penelitian ini mengambil latar di sebuah sekolah di NTT dan menggunakan pendekatan kualitatif untuk melihat sejauh mana siswa kelas IV benar-benar mempraktikkan apa yang mereka pelajari di buku teks.
​Kalau kita perhatikan hasil penelitiannya, ada sesuatu yang menarik. Ternyata, secara kognitif, anak-anak di sana sudah punya pemahaman dasar yang cukup kuat. Mereka tahu kalau sila pertama itu soal ibadah, sila kedua soal kemanusiaan, dan seterusnya. Tapi yang lebih penting dari sekadar tahu adalah refleksinya. Di sekolah tersebut, nilai religiusitas tidak cuma dibahas saat pelajaran agama, tapi muncul dalam kebiasaan berdoa bersama. Begitu juga dengan nilai gotong royong; siswa terbiasa bekerja sama saat piket kelas atau membantu teman tanpa harus diperintah berkali-kali. Ini membuktikan bahwa kalau lingkungan sekolahnya sudah hidup dengan nilai-nilai tersebut, anak-anak akan menyerapnya secara alami sebagai bagian dari identitas mereka, bukan cuma tugas sekolah.
​Namun, proses pembentukan karakter ini tentu tidak terjadi begitu saja. Para peneliti menyoroti bahwa peran guru sebagai role model adalah kunci utamanya. Siswa cenderung meniru apa yang mereka lihat, bukan hanya apa yang mereka dengar. Di SDI Ngedubhaga, interaksi yang hangat antara guru dan siswa membantu nilai-nilai seperti keadilan dan musyawarah jadi lebih mudah dipahami. Meski begitu, tetap ada tantangan dalam menjaga konsistensi perilaku siswa, terutama ketika mereka sudah berada di luar pengawasan sekolah. Hal ini menjadi pengingat bagi kita bahwa pendidikan karakter adalah proyek jangka panjang yang membutuhkan kerja sama antara guru di kelas dan orang tua di rumah agar nilai yang sudah dibangun tidak luntur begitu saja.
​Secara keseluruhan, artikel ini memberikan perspektif yang sangat relevan bagi kita yang peduli pada dunia pendidikan dasar. Pesan kuat yang ingin disampaikan adalah bahwa keberhasilan Pendidikan Pancasila tidak bisa diukur hanya dari nilai ujian, melainkan dari perubahan sikap yang nyata. Studi ini menjadi referensi berharga bagi mahasiswa kependidikan untuk lebih kreatif dalam merancang pembelajaran yang aplikatif. Kita harus bisa membawa Pancasila keluar dari sekadar teks mati di buku pelajaran dan menjadikannya sebuah nafas dalam keseharian siswa. Bagaimanapun juga, tugas kita bukan hanya mencetak anak-anak yang pintar secara akademik, tapi juga manusia-manusia yang punya hati dan karakter yang kuat untuk masa depan.
Deskripsi Artikel Asli
Informasi Sumber Eksternal
Identitas Pengulas (Kontributor)
Informasi Tambahan
Review
Write a ReviewThere are no reviews yet.




