Strategi Deep Learning untuk Bernalar Kritis di SD
Ulasan Ilmiah
Penelitian ini mengulas secara mendalam bagaimana guru kelas V SDN 1 Dompu menerapkan strategi pembelajaran deep learning untuk mengembangkan karakter bernalar kritis yang selaras dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila, melalui pendekatan kualitatif jenis studi kasus dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang dianalisis dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan ala Miles, Huberman, dan Saldaña
Penelitian ini penting karena menjawab dua kesenjangan sekaligus: rendahnya capaian kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar dalam Asesmen Nasional, yang menunjukkan siswa cenderung menghafal tanpa mampu menghubungkan konsep atau memecahkan masalah mandiri
minimnya kajian empiris tentang implementasi strategi deep learning yang secara eksplisit mengintegrasikan nilai Profil Pelajar Pancasila di jenjang sekolah dasar
Temuan kunci menunjukkan bahwa guru menggunakan model Problem-Based Learning (PBL), diskusi reflektif, dan penugasan proyek tematik, misalnya pada tema “Pahlawanku” di mana siswa mendiskusikan nilai kepahlawanan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari dan mempresentasikannya secara kelompok
Melalui strategi ini, siswa menunjukkan perkembangan kemampuan bernalar kritis berupa keberanian mengemukakan pendapat, mengajukan pertanyaan reflektif, mengaitkan materi dengan konteks nyata, serta memberikan argumen berdasarkan informasi, meskipun belum merata di seluruh siswa dan sebagian masih kesulitan menyampaikan alasan secara logis dan sistematis
Implikasi bagi pembelajaran di sekolah dasar sangat signifikan, karena penelitian ini memperlihatkan bahwa pembelajaran tematik yang berpusat pada masalah, diskusi, dan refleksi dapat secara konkret menguatkan dimensi Bernalar Kritis dalam Profil Pelajar Pancasila, sehingga pembelajaran tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga pembentukan karakter dan kompetensi sosial siswa
Pada saat yang sama, penelitian ini secara jujur menyoroti hambatan praktis yang perlu diantisipasi oleh sekolah dasar, seperti keterbatasan waktu, minimnya sumber belajar kontekstual, belum meratanya keaktifan siswa, dan kurangnya pelatihan guru terkait integrasi Profil Pelajar Pancasila
Catatan akhir yang dapat diberikan adalah bahwa artikel ini memiliki kekuatan pada kejelasan kaitan antara deep learning, PBL, dan Profil Pelajar Pancasila di konteks nyata kelas V SD, namun pengembangan ke depan dapat memperkuat bukti dengan data lebih rinci (misalnya contoh artefak tugas siswa, atau perbandingan sebelum sesudah) serta perluasan lokasi penelitian agar rekomendasi dapat digeneralisasi lebih luas ke berbagai sekolah dasar dengan karakteristik berbeda.
Deskripsi Artikel Asli
Informasi Sumber Eksternal
Identitas Pengulas (Kontributor)
Informasi Tambahan
Review
Write a ReviewThere are no reviews yet.




